Langsung ke konten utama

Belajar dari non-Islam Tentang Fungsi Motif Ka'bah pada Sajadah

Ilustrasi motif Ka'bah pada sajadah*/

Saya dan mungkin kita seorang Islam pasti pernah melihat sebuah gambar atau ilustrasi yang dijadikan sebagai motif pada sajadah.

Entah itu Ka’bah, Masjidil Haram, ataupun kubah masjid/musholla dengan lambang bintang dan bulannya. 

Sejak kecil, saya sering terpikirkan, adakah fungsi motif gambar-gambar tersebut hingga sengaja diletakkan tepat di arah pandangan kita saat solat? 

Atau tak bisakah sajadah dibuat polos saja, dengan tujuan agar tak menganggu kekhusyu’an saat berserah diri pada Allah?

Akhirnya, baru-baru ini pertanyaan-pertanyaan tersebut sedikit terjawab melalui video TikTok yang muncul di laman FYP (for your page) akun saya. 

Kendati sangat disayangkan video tersebut sudah di-takedown oleh pemiliknya.

Namun tetap saja, konten tersebut seolah menuntun saya pada sebuah jawaban atas pertanyaan di atas. 

Isi video tersebut (seingat saya) adalah tentang curahan hati seorang perempuan beragama di luar Islam (non-Islam). 

Dalam video singkat tersebut, dia mengungkapkan, bahwa dirinya yang beragama Kristen, tidaklah menyembah patung. 

Melainkan menyembah Tuhan yang di atas sana. 

Sementara patung berwujud Yesus atau Bunda Maria tersebut digunakan hanyalah sebagai titik fokus saat sembahyang.

Lantas, terpikirkan lah oleh saya, apa jangan-jangan fungsi motif Ka’bah, Masjidil Haram, atau kubah masjid pada sajadah juga berfungsi demikian? 

Di mana ternyata gambar tersebut bukan bermaksud untuk merusak konsentrasi kita saat beribadah, melainkan sebaliknya.

Agar bisa kita gunakan sebagai titik fokus sehingga solat menjadi lebih khusyu’ tanpa perlu memejamkan mata.

Bahkan, memandang sajadah (tempat sujud) saat solat sangat dianjurkan oleh Syekh Zainuddin Al-Malibari d alam kitab Fathul Mu'in.

Disunahkan mempertahankan pandangan mata ke arah tempat sujud supaya lebih khusyuk sekalipun orang buta...

Selain konten TikTok tersebut, sejumlah artikel lain juga telah membahas tentang polemik tersebut.

Di mana orang-orang Kristiani selama ini diangap menyembah patung Yesus dan Bunda Maria hanya karena menciumi dan berdoa di hadapannya.

Padahal tidak demikian.

Secara singkatnya, sejak dulu patung bukan hanya digunakan umat Kristiani atau agama lain. 

Namun sudah sejak manusia belum beragama dan menyembah dewa/dewi.

Bagi manusia sejak itu hingga kini, patung digunakan sebagai simbol, sebagaimana pandangan ahli budaya, Ernest Casiree.

Karena dengan adanya simbol itu seseorang dapat merasakan kehadiran yang ilahi dalam hidupnya.

Sehingga sebagai muslim/muslimah, boleh lah kita mencoba hal tersebut yang sekiranya baik bagi ibadah kita pada Allah.

Sebab, berdasar percobaan saya, memang sedikit berbeda rasanya saat memandang motif yang terdapat pada sajadah.

Entah perasaan apa yang muncul tapi saat melakukan hal itu, saya merasa tingkat kekhusyu’an sedikit bertambah.

Wallahu’alam bissawab semoga bermanfaat. 

Jangan sungkan untuk memberitahu dan mengoreksi jika menurut kalian artikel ini kurang tepat dan sebagainya.***

Komentar